Langsung ke konten utama

Shalat membentuk Sikap Syukur dan melahirkan Sumber Daya Utama

Hikmah Shalat Bagi Kesehatan



Oleh : Buya H. Mas'oed Abidin

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Seungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ”

(Q.S. Al ‘Ankabut : 45)

Dalam rangka membina kesehatan manusia. Islam membuat pedoman-pedoman secukupnya. Salah satunya adalah shalat lima waktu. Mungkin selama ini kita belum menyadari apa sesungguhnya hikmah dibalik gerakan shalat itu. Mengapa kita harus berdiri tegak dan lurus (bagi yang mampu), ruku’, i’tidal, sujud dan duduk (tahuyat) di dalam shalat? Tidakkah kita menyadari bahwa setiap gerakan itu mengandung unsur olah raga? Yang ternyata dapat menyehatkan jasmaniyah (tubuh) serta berefek positif terhadap kesehatan rohani (mental/jiwa) bagi yang melaksanakannya.

Demikian menurut ahli. Prof. DR. H.A. Saboe dalam bukunya Hikamh Kesehatan dalam Shalat, 1986.  Sedangkan ahli lain, Syekh Hakim Abu Abdullah Ghulam Hoiruddin dalam bukunya The Book of Sufi Healding (Kitab Al Timn Al Rauhii As Suufi), juga dalam versi Indonesia mengatakan bahwa shalat dikerjakan dalam delapan posisi yang masing-masing dapat memberikan efek positif terhadap siri seseorang. Dan ahli lain ada yang menyebutkan ada 12 atau lebih posisi dalam shalat.

Posisi 1: Berdiri tegak, pandangan ke arah tempat sujud dan menghadap kiblat.  Dengan posisi ini, tubuh merasa bebas dari beban, karena    pembagian beban yang sama pada kedua kaki. Punggung lurus sehingga akan memperbaiki postur tubuh. Pandangan dipertajam dengan memfokuskan pada tempat sujud. Otot-otot punggung bagian atas dan bawah dilemaskan, pusat otak bagian atas dan bawah dipadukan membentuk satu kesatuan tujuan.

Posisi 2: Berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di dada.            Dengan posisi ini dapat diperpanjang konsentrasi pengendoran kaki dan punggung. Membaca ayat-ayat Al Qur’an atau doa dapat merangsang penyebaran 99 Nama Tuhan (Asmaul Husna) ke seluruh tubuh, pikiran dan jiwa. Suara vokalnya akan merangsang jantung, kelenjer gondok (tyroid), kelenjer pineal, kelenjer bawah otak, kelenjer adrenal dan paru-paru serta akan membersihkan dan mengeringkan semua organ tersebut. Juga dapat menciptakan sirkulasi darah, terutama aliran darah kembali ke jantung, serta produksi getah bening dan jaringan yang terkumpul dalam kantong-kantong kedua persendian itu menjadi lebih baik, gerakannya menjadi lancar dan dapat menghindarkan diri dari penyakit di persendian, misalnya reumatik.

Posisi 3 :    Ruku’  Posisi ini dapat melonggarkan otot-otot punggung bawah, paha dan betis. Darah dipompa ke batang tubuh bagian atas. Juga dapat melonggarkan otot-otot perut, abdomen dan ginjal. Dengan ruku’ ternyata tulang punggung (vertebrae) dapat tetap berada dalam keadaan baik, karena persendian diantara badan-badan ruas tulang belakang (corpus vertebrae) tetap lembut dan lentur. Dapat memudahkan persalinan bagi wanita yang melahirkan. Selain itu, ruku’ dapat menciptakan konsentrasi secara serentak antara otot-otot pinggang, sehingga penyakit pembungkukan tulang punggung (scloise) yang sering dialami terutama oleh anak-anak karena sikap duduk yang salah saat menulis atau membaca dapat dihindarkan.

Posisi 4: Bangkit dari ruku’ (I’tidal)    Gerakan ini me-nyebabkan darah segar yang bergerak naik ke batang tubuh saat ruku’ akan kembali ke keadaan semula dengan membawa toksin. Tubuh menjadi santai kembali dan melepaskan ketegangan.

Posisi 5: Sujud Secara ilmiah sujud dapat menye-babkan otot-otot menjadi besar dan kuat terutama otot-otot dada, sehingga terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh dada tidak kuat. Lutut yang membentuk sudut yang tepat memungkinkan otot perut berkembang dan dapat mencegah pembesaran di bagian tengah perut. Sujud juga menyebabkan 20 % oksigen yang ada pada tubuh akan mengalir ke otak, sehingga aliran darah dalam otak semakin lancar. Sujud dapat pula memperlancar aliran darah ke bagian atas tubuh terutama kepala (mata, hidung, dan telinga) serta paru-paru yang memungkinkan toksin-toksin dibersihkan oleh darah. Ternyata sujud dapat mengurangi tekanan darah tinggi dan menambah elastisitas tulang. Pada saat sujud, semua otak akan berkontraksi, bukan saja otot menjadi besar dan kuat, tapi urat-urat darah sebagai pembuluh nadi  (arteria), pembuluh darah balik (venae), serta urat-urat getah bening akan terpijat atau terurut. Sehingga peredaran darah dan lympa akan lancar. Disamping itu membantu kelancaran kerja jantung dan menghindarkan pengerutan dinding-dinding pembuluh darah (arterio-scelerosis). Gerakan sujud juga dapat mengahasilkan energi panas  yang dibutuhkan oleh proses pencernaan makanan oleh tubuh. Satu hal lagi, bahwa adalah merupakan esensi dari ibadah shalat.

Posisi 6: Duduk di antara dua sujud (tasyahud Awwal/Duduk iftirasy)      Sikap ini dapat membantu meng-hilangkan efek racun pada hati dan merangsang gerakan paristaltik usus besar, serta akan membantu proses pencernaan dengan mendesak turun isi perut.

Posisi 7: Sujud ke dua setelah duduk Iftirasy Pengulangan sujud yang lama dalam beberapa detik dapat membersihkan sistem pernafasan, peredaran darah dan saraf, juga penyebaran oksigen ke seluruh tubuh akan lebih lancar dan menciptakan keseimbangan sistem saraf simpatik dan para simpatik.

Posisi 8: Tasyahud Akhir/duduk Tawaruq     Posisi  ini hampir sama manfaatnya dengan dengan posisi 6 (duduk Iftirasy). Pada kedua sikap duduk ini, sebenarnya kita duduk dengan otot-otot pangkal paha. Dimana di dalamnya terdapat salah satu saraf pangkal paha yang besar yaitu di atas kedua tumit kita, tumit dilapisi oleh sebuah otot yang berfungsi sebagai bantal, sehingga tumit menekan otot-otot pangkal paha serta saraf pangkal paha dan  pijatan atau tekanan tersebut ternyata dapat menghindarkan atau menyembuhkan penyakit  saraf pangkal paha (neuralgia) yang terasa sakit, nyeri dan sengal.

Kesimpulannya, jika shalat kita kerjakan dengan sebenar-benarnya (sesuai gerakan dan syari’at), Insya Allah ia dapat melindungi, mencegah bahkan meyembuhkan dari sekumpulan penyakit ringan maupun berat.




Syukur Membawa Nikmat

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“ Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri ; Barangsiapa yang tiada bersyukur (kufur) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji . ”

(Q.S. Luqman: 12)

Allah SWT telah memberikan kenikmatan yang tiada terhitung kepada kita. Antara lain nikmat berupa penciptaan manusia beserta kebituhannya, juga rasa kasih sayang yang ditanamkan ke dalam hati kedua orang tua kita pada saat kita masih kecil dan membutuhkannya. Tidak kalah besarnya adalah nikmat Allah SWT berupa panca indra, umur, pikiran dan kelengkapan tubuh lainnya, sehingga membedakan manusia dari makhluk lain . Petunjuk ke arah kebenaran serta nikmat berupa kesehatan, baik kesehatan tubuh maupun jiwa kita, juga merupakan nikmat yang tiada ternilai harganya. Sedangkan berbagai macam ciptaan-Nya di atas bumi ini juga merupakan nikmat.

Pendek kata, hamparan daratan dan lautan dipenuhi dengan nikmat Allah SWT yang disediakan bagi kita. Walaupun kita jadikan air lautan untuk jadi tinta dan semua ranting dan batang kayu menjadi tangkai penanya, dan kita gunakan untuk menulis nikmat Allah yang telah dicurahkan kepada kita, maka belumlah akan dapat terhitung jumlah nikmat Allah SWT yang kita gunakan setiap hari, mulai dari terbutnya matahari sampai terbenamnya dan hingga terbit lagi. Namun manusia banyak yang tidak mensyukuri bahkan mengingkari penciptanya, disebabkan kecongkakan dan kepongahan mereka.

Umumnya manusia suka alpa. Maksudnya, ketika mereka dalam keadaan sejahtera atau senang, mereka hanya melihat ke depan, lalu bila dalam kekurangan barulah mereka menghitung-hitung, atau ketika mereka mendapat kebaikan mereka berbangga atas keberhasilan pribadi, namun bila mereka tersandung kemalangan lalu menggerutu atau menyadari takdir Allah SWT. Sesungguhnya nikmat dan karunia Allah SWT tidak akan terasa banyak, berlimpah ruah kecuali adanya rasa syukur. Mensyukuri nikmat akan menambah nikmat yang lebih banyak serta dapat memelihara nikmat yang telah ada.

Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7)

Rasa syukur pada setiap orang pasti ada. Yang jarang adalah kemampuan seseorang untuk menampakkan rasa syukurnya ke dalam amal ibadah, amal sosial dan budi pekerti. Bila ada pribadi yang mampu berlaku sabar, tabah pasa saat krisis hidup, mengapa seseorang harus kehilangan syukur pada saat-saat mereka menemui kebahagiaan hati?

Allah SWT telah melebihkan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain disebabkan beberapa rahasia dan nikmat tersembunyi, yang tidak akan bisa diketahui seseorangpun kecuali Dzat-Nya semata. Dalam perbuatan-Nya itu juga terkandung banyak manfaat dan maslahat bagi hamba-hamba itu sendiri, yang tidak disingkapkan rahasianya kepada mereka. Lantaran itu sebaiknya setiap hamba bersikap ridha terhadap bagian yang telah ditentukan Allah SWT atasnya (qana’ah) dan tidak lupa mensyukuri segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya.

Tanda syukur adalah memandang besar sesuatu nikmat, sekalipun nikmat itu kecil adanya, serta memandang keagungan penganugerahnya, yakni Allah SWT.

Dalam pada itu, sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahkan berbagai nikmat kepada hamba-Nya yang semua itu tak terhitung banyaknya. Setiap hamba tidak akan mampu menghitung nikmat yang telah diterimanya setiap hari, apalagi untuk bersyukur kepada Allah atas setiap nikmat yang diberi.

Bila kita sempat atau sengaja menoleh ke belakang, kemudian dapat menghitung berapa langkah perjalanan hidup yang telah dilalui, maka perhitungan pasti menunjukkan bahwa kita telah memiliki kemajuan. Dahulu kita dilahirkan tanpa sesuatu, kini segalanya telah berbeda, baik umur, pengalaman, ilmu dan sebagainya. Betapapun miskinnya seseorang, sebenarnya ia adalah orang yang beruntung. Allah SWT telah menciptakannya sebagai manusia, di atas segala makhuk yang lain.

Syukur adalah mensucikan Allah SWT, meng-Esa-kan-Nya, baik Esa dalam beribadah maupun dalam memujinya. Karena itulah Allah SWT mengaitkan antara syukur dengan zikir. Sebagaimana  firman-Nya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al Baqarah: 152)

Mensyukuri nikmat Allah SWT dilakukan dengan hati, ucapan dan anggota adan. Syukur dengan hati adalah menunjukkan kecintaan kita kepada Allah SWT, yang diwujudkan melalui ibadah kepada-Nya, beriman akan sifat-sifat kesempurnaan Allah SWT, adalah mengimani bahwa Dia-lah pemberi nikmat dan rezki serta menyatakan bahwa tiada tuhan selain Dia. “Laa ilaaha Illallah. ” Sedangkan syukur dengan ucapan  (lisan) dilakukan dengan memuji keagungan-Nya. Kemudian dengan bebicara yang baik serta mencegah ucapan yang tidak bermanfaat. Dan bersyukur dengan anggota badan maksudnya adalah  anggota badan dipergunakan untuk mengantar seseorang ke arah perbuatan yang bai sesuai perintah-Nya serta meninggalkan larangan-Nya.

Meskipun manusia ingkar akan nikmat Allah SWT, dan tidak bersyukur kepada-Nya, namun Allah SWT tetap Maha Kaya dan Maha Mulia. Jika manusia mau bersyukur dan beribadah dengan penuh keikhlasan, semua itu tidak akan menambah kekayaan Allah SWT . Sebaliknya, jika mereka kafir, kekayaan Allah SWT tidak akan berkurang sedikitpun. Itulah sebabnya, maka Allah SWT menyatakan jika manusia itu bersyukur, syukur tersebut akan kembali kepada diri manusia itu sendiri berupa tambahan nikmat. Dan jika mereka kafirm kepada-Nya, peruatan itupun akan kembali kepada manusia itu sendiri.

“Pergunakanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan: Pergunakan sehatmu sebelum datang sakitmu. Pergunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sempitmu. Pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Pergunakanlah masa kayamu sebelum datang masa faqirmu. Pergunakanlah kesempatan masa hidupmu sebelum datang saat kematiamu.” (HR. Baihaqi)




Keutamaan Berbuat Jujur

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kalian beserta orang-orang yang jujur. ” (Q.S. At Taubah: 119)

Seorang muslim adalah seorang yang jujur. Dia mencintai kejujuran melazimkannya lahir batin di dalam hati (Shidqul qalb), ucapan (Shidqul hadits) dan perbuatan (Shidqul ‘amal), karena kejujuran merupakan kebaikan, dan  kebaikan menunjukkan kepada surga. Surga merupakan tujuan yang paling mulia bagi seorang muslim dan merupakan tujuan yang paling diidam-idamkannya. Adapun kebalikan dari  jujur adalah dusta. Sifat ini menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan menunjukkan kepada neraka, sedangkan neraka merupakan hal yang paling ditakuti seorang muslim.

Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan,akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab).”

Sesungguhnya orang yang telah mengenal kejujuran dan menetapkan janji, orang-orang akan cinta kepadanya; dan mereka mencintai perilakunya. Apabila ia seorang yang alim, mereka akan mengambil manfaat ilmunya dan merekapun akan menghormatinya. Andaikata ia seorang pedagang, mereka akan mempercayai usahanya. Sesungguhnya hanya terletak pada kejujuranlah seorang pengusaha akan sukses; seorang pekerja akan meraih keberhasilan, seorang pedangang mampu maraih keuntungan.

Sesungguhnya kejujuran adalah budi pekerti yang sangat kuat kaitannya dengan kemaslahatan perorangan atau jama’ah dan merupakan sisi yang paling kuat untuk membenahi dan membina masyarakat dan menerapkan serta menegakkan aturan-aturannya. Menghias diri dengan kejujuran adalah keutamaan, dan melepas diri daripadanya adalah kehinaan. Kejujuran adalah tanda keimanan dan kesucian jiwa serta suatu tanda dari keselamatan kita. Kejujuran yang menunjukkan keindahan sifat dan ketinggian moral seseorang. Kejujuran juga membentuk pelakunya menjadi cinta kepada allah SWT dan cinta kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin.

Seorang muslim tidak hanya melihat kejujuran sebagai akhlak mulia saja melainkan memandangnya lebih dari pada itu. Seorang muslim memandang kejujuran sebagai penyempurna iman dan keislaman.

Sesungguhnya Al Qur’an menegaskan bahwa Allah SWT akan melaknat orang yang pendusta. Apakah kita rela menjadi seorang yang dilaknat Allah SWT, padahal kita mempelajari dienul Islam.

Wahai orang-orang yang beriman. Berusahalah menjadi orang yang selalu bersifat jujur dalam segala perbuatan dan pembicaraan sebab sesungguhnya dusta itu adalah perbuatan yang buruk dan tercela. Janganlah berdusta untuk memperoleh nama baik di mata manusia, karena apabila mereka mengetahuinya niscaya mereka tidak akan mempercayaimu, mungkin untuk selamanya. Sekalipun apa yang engkau sampaikan itu benar. Pribahasa mengatakan “sekali lancung keujian seumur hidup orang tak kan percaya”. Kalau sudah demikian, sulit untuk mengembalikan kepercayaan orang lain.

Sesungguhnya orang yang berkata benar dan jujur dalam segala hal akan disayang Allah dan dipercaya oleh masyarakat atau orang lain. Karena itu berusahalah untuk selalu memelihara kejujuran. Hindari perbuatan dusta, sekalipun perbuatan itu dapat menyelamatkan dirimu.

Berikut ini adalah tanda-tanda kejujuran:

Jujur dalam setiap ucapan.      Seorang muslim hendak-nya tidak berbicara kecuali dengan perkataan yang benar dan jujur. Apabila kita memberitahukan sesuatu hendaknya kita memberitakan kejadian yang sebenarnya, karena berdusta dalam berbicara termasuk tanda-tanda kemunafikan.

  Jujur dalam berkehendak.      Seorang muslim hendak-lah tidak ragu dalam melakukan sesuatu. Hendaknya kita melakukan pekerjaan tanpa menoleh kepada sesuatu perbuatan yang lain, atau tergoda oleh pekerjaan yang lain sehingga pekerjaan pertama tidak sempurna.

  Jujur terhadap janji. Apabila seorang muslim berjanji dengan orang lain, hendaklah memenuhi apa yang telah kita janjikan. Perlu diingat bahwa mengingkari janji termasuk tanda kemunafikan

  Jujur dalam berbagai hal. Seorang muslim tidak boleh menunjukkan sesuatu yang tidak ada padanya. Kita tidak boleh bertindak yang tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam batin kita. Juga tidak memakai tipu daya serta tidak menbebani diri dengan sesuatu yang tidak mampu untuk dilakukan.

Berikut ini adalah buah kejujuran yang dirasakan oleh orang-orang yang melakukannya:             Bergembira dan mempu-nyai jiwa yang tenang, hal  ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW “Kejujuran adalah ketenangan.” (HR. Tirmidzi). Membawa berkah dalam mencari rezki. Akan mencapai derajat para syuhada, dan  selamat dari kebencian

Kejujuran dapat membentuk manusia saling percaya mempercayai dan saling berkasih sayang diantara mereka. Akan tetapi manakala kejujuran telah lenyap dalam diri seseorang, maka akan datanglah kedustaan merasuk ke dalam jiwanya. Lalu timbullah dari padanya sifat kemunafikan, penipuan, pengkhianatan, riya’an kemudian menyalahi janji. Sesungguhnya Allah SWT sudah memperingatkan akan kesudahan atau akibat dari kedustaan.

Ingatlah, sesesungguhnya orang yang selalu berbuat jujur, setiap perkataan dan perbuatannya akan selalu dibuat dalil, sekalipun tanpa mengetahui dalil yang sebenarnya (Al Qur’an dan Hadits). Dia akan selalu diajak bermusyawarah dan dimintai pendapatnya dalam menyelesaikan suatu masalah. Jika ingin mendapatkan kepercayaan itu, maka selalulah berlaku jujur dalam segala hal.

Oleh karena itu marilah kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT dan senantiasa berlaku jujur. Karena kejujuran adalah kunci segala kebaikan dan jalan menuju keridhaan Allah SWT serta jalan menuju sorga. Dan marilah kita selalu menjauhkan diri dari kedustaan karena kedustaanlah kunci segala kejahatan dan jalan menuju kemurkaan Allah SWT dan membawa pelakunya ke arah neraka. Allahu A’lam Bissawab


 Kejujuran : Moral Utama dalam Membina Ummat

عَليَْكم بالصِّدْقِ فَإنَّ الصِّدْقَ يَهْدى إِلى البِرِّ، وَ البِرُّ يَهْدى إلى الجَنَّةِ، وما يَزَال الرَّجُلُ يَصْدِقُ و يَسْحَرَّى الصِّدْقَ حَتى يُكْتَبُ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا. و إِيَّاكُمْ و الكَذِبَ فإنَّ الكَذِبَ يَهْدِى إلى الفُجُوْرِ و إنَّ الفُجُوْر يَهْدِى إلى النَّارِ وَمَا يَزَالُ العَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَسْحَرُّ الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ الكَذَّابًا.

“ Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke sorga. Seorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan, akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab). (H.R. Bukhari)

Salah satu dari sekian sifat dan moral utama seorang manusia adalah kejujuran. Karena kejujuran merupakan dasar fundamental dalam pembinaan umat dan kebahagiaan masyarakat. Karena kejujuran menyangkut segala urusan kehidupan dan kepentingan orang banyak. Kepada manusia Allah SWT memerintahkan agar mempunyai perilaku dan sifat ini. Rasulullah SAW adalah merupakan contoh terbaik dan seorang yang memiliki pribadi utama dalam hal kejujuran.

Kejujuran memang akhlak utama para nabi dan rasul. Dan demikian pula akhlak para generasi pertama dan utama umat ini, mereka senantiasa berpegang teguh kepada kebenaran dan kejujuran dalam segala aspek kehidupan. Bukan saja dalam urusan kemasyarakatan, namun juga dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga termasuk pergaulan dengan anak-anak mereka.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Barangsiapa yang berkata kepada seorang anak, “Mari nak, ambillah kurma ini”, lalu dia tidak memberikannya, maka ia telah mendustainya.” (HR. Ahmad)

Dengan tuntunan seperti itu, Rasulullah SAW hendak memberi pelajaran kepada para orang tua dan para pendidik, supaya mereka menanamkan sifat utama ini kepada anak-anaknya semenjak kecil. Sehingga ketika mereka menjadi dewasa mereka tetap memiliki watak dan kebiasaan ini.

Melalui cara ini diharapkan kelak akan lahir generasi Islam yang utama, yang akan memberikan kebahagiaan hidup dan membangkitkan kesadaran bangsa.

Islam menaruh perhatian serius terhadap moral terpuji ini. Islam selalu mengajak dan mendorong manusia agar memilikiwatak ini, sebaliknya Islam tidak menyukai dan bahkan memperingatkan manusia agar menjauhi  dusta dan ketidak jujuran. Karena dusta adalah merupakan salah satu perangai yang bernilai rendah dan tercela. Karena dusta, hukum-hukum menjadi rusak, kehormatan terinjak-injak dan berbagai kejahatan merajalela. Berita bohong seringkali mengakibatkan  terputusnya hubungan persaudaraan dan menimbulkan konflik yang tak berhujung sesama manusia. Isu bohong tidak sedikit membuat seseorang kehilangan harga dirinya.

Salah satu bukti bahwa betapa Islam sangat mencela dusta adalah bahwa Islam sangat mencela saksi palsu yang dapat mengakibatkan hukum dapat diperjual belikan. Dan menurut Islam, saksi palsu adalah salah satu dari bagian kesalahan yang sangat fatal dan dosa besar.

Kesaksian dusta kadang-kadang dilakukan orang karena beberapa sebab. Antara lain karena hubungan yang tidak baik, karena kasihan kepada kawan, karena terlalu benci kepada lawan, karena takut kepada atasan atau karena ada udang di balik batu.

Demi menegakkan kebenaran dan kedamaian di muka bumi ini, Tuhan memerintahkan kepada kita menjadi saksi yang jujur dan adil, dan mengutamakan penegakan kebenaran.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapakmu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran, dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segal apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An Nisaa’: 135)

Memang sangat disadari bahwa menjadi orang yang jujur merupakan pilihan  yang sungguh berat sekali di tengah arus budaya yang penuh dengan kepalsuan, kedustaan, kemunafikan dan ketidak-jujuran, dimana orang sangat sulit sekali dipegang kata dan janjinya. Padahal kejujuran tidak hanya mencerminkan integritas kepribadian seseorang, tetapi juga menjadi pesona bagi sesama dan mengundang datangnya ketenangangan bagi pelakunya.

Dalam siratan hadits-hadits Rasulullah SAW akan kita dapatkan petuah tentang betapa berartinya makna sebuah kejujuran. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk meninggalkan apa yang kita ragukan  dan mengerjakan apa yang kita yakini. Dan bahwasanya kejujuran itu akan menimbulkan ketenangan juwa sedangkan dusta selalu saja membuat jiwa pelakunya bimbang dan goncang.

Maka tidak aneh bila kita sering menjumpai orang yang memiliki harta benda; kekayaan yang melimpah namun sangat disayang  ia tidak pernah menemui kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Hal ini boleh jadi dikarenakan harta benda yang melimpah ruah itu  dihasilkan dari jalan yang tidak benar atau dari hasil ketidak-jujuranya.

Sedemikian berbahayanya sikap dusta dan ketidak-jujuran, maka Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW mengingatkan kepada kita para hamba dan umatnya untuk senantiasa memelihara dan menjaga sifat yang mulia ini, yakni kejujuran.

Apalah arti kehidupan ini jika tidak dihiasi dengan kejujuran. Apalah arti limpahan harta yang banyak jika semua itu bukanlah hasil tetesan keringat kejujuran. Maka tanamkanlah kejujuran dalam dirikita, karena kejujuran adalah salah satu pondasi utama dalam membangun bangsa. Karena, betapapun besarnya sebuah bangsa, tetapi jika kejujuran telah sirna, maka hancurlah bangsa itu.


 Shalat membentuk Sumber Daya yang Utama

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah selesai shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah, sebutlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian memperoleh keberuntungan.” (Q.S. Al Jumu’ah: 10)

Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk senantiasa memacu diri dalam meraih karunia yang telah Allah limpahkan kepada mereka. Diantara cara yang mudah itu dilakukan oleh manusia dalam mencari rezki yang Allah tebarkan di muka bumi ini adalah dengan cara bekerja dan berusaha.

Bekerja merupakan sebuah keniscayaan, tidak mungkin kita menjalani hidup tanpa bekerja dan berusaha. Namun demikian, bekerja dan berusaha yang nantinya akan menghasilkan sesuatu, diantaranya bersifat materi (uang) haruslah dilakukan dengan cara yang benar, agar hasil yang diperoleh mendapat berkah dan diridhai oleh Allah SWT. Karena itu dalam Islam dikenal istilah “halal-haram” yang akan menilai kerja atau usaha apa yang dihasilkan darinya.

Al Qur’an telah menetapkan konsep dasar halal dan haram yang berkenaan dengan transaksi dalam hal yang berhubungan dengan akuisisi (perolehan/pemerolehan), disposisi (penempatan) dan semacamnya. Semua yang menyangkut dan berhubungan dengan harta dan benda hendaknya dilihat dan dihukumi dengan dua kriteria; halal dan haram.

Allah SWT memerintahkan agar manusia mencari rezki dengan cara yang dihalalkan oleh Allah dan memerintahkan manusia agar tidak memakan sesuatu kecuali yang dihalalkan oleh-Nya dan harus yang bersumber dari sesuatu yang halal. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bgimu, dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Q.S. Al Maidah: 87-88)

Salah satu prinsip yang telah diakui oleh Islam, ialah apabila Islam telah mengharamkan sesuatu, maka wasilah dan cara apapun yang dapat membawa kepada perbuatan haram, hukumnya adalah haram. Dari sinilah maka para ulama fiqih membuat suatu qaidah: “ Apasaja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram. ”

Qaidah ini senada dengan apa yang diakui oleh Islam, yaitu bahwa dosa perbuatan haram tidak terbats pada pribadi pelakunya itu sendiri secara langsung, tetapi meliputi daerah yang sangat luas sekali, termasuk semua orang yang bersekutu dengannya, baik melalui harta maupun sikap. Masing-masing mendapat dosa sesuai dengan keterlibatannya. Misalnya tentang arak (minuman atau sesuatu yang memabukkan). Rasulullah SAW melaknat sepuluh orang yang terlibat dalam hal pengadaan dan peredaran arak. Sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Majah: “Rasulullah SAW melaknat tentang arak sepuluh golongan: (1) Yang memerasnya, (2) Yang minta diperaskan, (3) Yang meminumnya, (4) Yang membawanya, (5) Yang meminta dihantarkan, (6) Yang menuangkannya, (7) Yang menjualnya, (8) Yang memakan hasil penjualannya, (9) Yang membelinya, (10) Yang minta dibelikan.”

Kemudian dalam dunia kerja dan usaha, Islam pada prinsipnya tidak melarang suatu pekerjaan atau usaha, kecuali ada unsur-unsur kezhaliman, penipuan, penindasan dan mengarah kepada sesuatu yang dilarang oleh Islam. Misalnya, Allah SWT mengharamkan perjudian dan meramal atau mengundi nasib, sebagaimana firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatn syethan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al Maidah: 90)

Bahaya yang akan muncul akibat perjudian dapat disebutkan antara lain: Menimbulkan permusuhan dan pertengkaran sesama pemain judi. Menghalangi dari zikir dan shalat. Meresahkan dan merusak masyarakat. (Dengan munculnya tindak kriminal seperti perampokan, pencurian dan sebangsanya, untuk mencari modal yang akan dipertaruhkannya di meja judi). Menimbulkan kelemahan mental, hilangnya semangat bekerja (pemalas) dan Meningkatkan jumlah pengangguran. Meruntuhkan rumah tangga. Menghabiskan harta benda dengan cara sia-sia. Menimbulkan beban hutang. (Penjudi yang kalah tertuntut untuk membalas kekalahannya. Sehingga ia tak segan-segan berhutang mencari modal untuk kembali berjudi). Dan masih banyak lagi.



Ada pula manusia yang takut miskin dan ingin kaya dengan dara pintas, sehingga ia melakukan pencurian (maling) dengan cara sembunyi-sembunyi. Cara ini mungkin dikatakan dengan cara korupsi.

DR. Amien Rais dalam bukunya Suksesi & Keajaiban Kekuasaan mengatakan, “Orang sering mengatakan bahwa korupsi terdiri dari tiga jenis, yakni korupsi ekstraktif, korupsi manifulatif, dan korupsi nepotistik. Yang pertama merupakan pemaksaan terhadap seseorang untuk membayar suap (sogok) agar semua urusan lancar (KUHP: Kasih Uang Habis Perkara Atau UUD: Ujung-ujungnya Duit); Yang kedua setiap usaha kotor untuk mempengaruhi pengambilan keputusan penting, dan yang terakhir berhubungan dengan penyalahgunaan kekeluargaan dalam berbagai eselon kehidupan nasional. Di Indonesia ketiga jenis korupsi ini sangat subur.

Dalam bekerja dan berusaha, niat pertama selain mencari rezki adalah ibadah dalam rangka menggapai ridha Allah. Sehingga apa yang dihasilkan dari kerja dan usahanya itu mendapat berkah dari Allaj SWT. Yang jelas prilaku yang diridhai Allah akan selalu mendapatkan berkah-Nya, sebaliknya setiap perilaku, kerja dan usaha yang tidak diberkahi akan menuai malapetaka. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari pekerjaan dan memakan apa yang telah diharamkan Allah SWT. Amin

“Daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram tidak akan bertambah kecuali neraka yang pantas baginya.”(HR. Tirmidzi)

Sumber : http://buyamasoedabidin.multiply.com/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Brosur Pendaftaran Santri Periode 2017/2018

2 Orang Santri Ma'had Tahfizul Qur'an Syech Ahmad Chatib Lolos Babak Final Pada Kegiatan MTQ Tingkar SUMBAR

Bismillah Walhamdulillah kita ucapkan kehadirat Allah SWT yang mana atas Rahmat dan Izin-Nya dua orang Santri Pondok Pesantren Mah'ad Tahfizul Qur'an Syech Ahmad Chatib Lolos memasuki babak final dalam kegiatan MTQ Tingkat Sumatera Barat. Kegiatan MTQ ini diadakan di Pariaman. Dua orang santri ini yaitu, Hafzan Fuad : MTQ cabang 30 juz dan Fitra Kurniawan : MTQ cabang 10 juz. 







PROPOSAL BANTUAN UNTUK PEMBANGUNAN LANJUTAN ASRAMA SANTRI

BANTUAN UNTUK PEMBANGUNAN ASRAMA SANTRI LANTAI 2 MA'HAD TAHFIZHUL QUR'AN SYECH AHMAD CHATIB

Bismillah.... Assalamu'alaikum Wr Wb,

Puji syukur kami ucapkan kehadiran Allah SWT semesta alam. Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah buat Rasulullah Muhammad SAW...
Dalam rangka melanjutkan pembangunan Asrama Santri, kami mengharapkan saluran Infaq atau Sedekah dari donatur Ibu/ Bapak/ kaum Muslimin/ Muslimat melalui Rekening Bank Syari'ah Mandiri Cabang Bukittinggi An. Yayasan Syech Ahmad Khatib : No Rek. 7108550745
TTD  Mudir Mahad
Untuk RAB