Artikel Hafalan Al-Qur'an Itu Mudah


Senin, 22 Juli 2019

Bismillahirrahmanirrahim


Menghafal Al Quran sebenarnya adalah sebuah aktivitas yang sangat mengasyikkan diibandingkan menghafal lirik lagu dan isi prosa. Sayangnya memang tidak semua orang diberi nikmat menghafalkan Al Quran.
Kenapa saya sebut mengasyikkan?
Karena menghafal Al Quran membantu kita memahami isi Al Quran dan mau tidak mau akan membuat kita merasa malu jika kita tidak mengerjakan apa yang telah kita hafal. Al Quran memiliki banyak keistimewaan dan ia adalah kitab ilmiah yang jika kita mampu memahaminya, insyaa Allah akan banyak sekali ilmu yang Allah berikan kepada kita. 
Di dalam Al Quran disebutkan Al Quran sebagai kitab pembeda (al furqan). Pembeda dari ketidakilmiahan dan ketidaksehatan akal. Al Quran juga merupakan obat (asy syifaa’). Obat bagi hati yang galau dan obat bagi raga yang lemah. Dan hanya bagi mereka yang memahaminya sajalah, asyiknya menghafal menjadi sebuah nikmat yang luar biasa dibandingkan menghafal lirik lagu yang melo dan justru membuat hati semakin galau.
Layaknya anak perempuan yang sedang belajar memakai jilbab, ada yang berkata menjilbabi hati adalah hal yang lebih utama dibanding memakai jilbabnya. Padahal sebenarnya, justru dengan memakai jilbab, kita dipaksa paham kenapa kita berjilbab serta merasakan efek berjilbab baik secara langsung dan tidak langsung (dengan catatan jilbab yang dipakai sesuai aturan). 
Memang tidak semua orang mendapatkan pemahaman terkait jilbab dalam waktu yang cepat, tetapi setidaknya dengan memakai jilbab kita juga akan belajar malu jika tidak berakhlak seperti seharusnya seorang muslimah. Pun dengan menghafal Al Quran. Kita memang harus memperbaiki bacaan sebelum kita menghafalnya. Namun memperbaiki bacaan bukan berarti menunda menghafal Al Quran terlalu lama. Karena dengan menghafal beberapa ayat saja, kita akan mendapatkan dampak positif dari ayat tersebut (asalkan niat dan cara menghafalnya pun dengan benar).
Apa saja manfaat menghafal Al Quran?
Orang yang menghafal Al Quran biasanya mau tidak mau akan mencoba memahami arti di dalam ayat yang sedang ia hafalkan. Hal ini tentu membantu kita mengetahui makna yang terkandung dalam Al Quran meskipun hanya sebatas tau artinya dan bukan tafsirnya secara terperinci. Setidaknya dari yang tadinya kita tidak tahu apa saja yang dituliskan di dalam Al Quran, kita menjadi tahu sebagian dari isi Al Quran. 
Dengan mengerti arti sebuah ayat Al Quran, setidaknya kita juga dapat mengerti inti ajaran islam dan yang paling utama adalah mengenal Allah karena di dalam Al Quran sebagian besarnya terdiri dari ilmu tauhid. Selain itu, salah satu nikmat yang didapat jika kita menghafal Al Quran adalah kita dapat membacanya ketika shalat wajib ataupun qiyamul lail. Bagaimana mungkin seorang muslim dapat menikmati sholatnya terutama qiyamul lail ketika bacaannya hanya itu-itu saja?
Saya pernah suatu ketika sholat malam di Masjid Ulul Albab UII di bulan Ramadhan dan diimami seorang hafidz Al Quran. Sungguh pengalaman pertama shalat malam dengan bacaan yang sangat panjang dan suara yang indah tidak hanya membantu mata saya terbuka dari kantuknya tengah malam itu, tetapi juga membuat saya ikut menangis kala sang imam menangis melantunkan sebuah ayat tentang neraka jahannam. 
Saya memang belum bisa bahasa Arab waktu itu (sekarang sebenernya juga ding haha), tapi pengalaman pertama saya dengan menikmati bacaan yang panjang di malam hari Ramadan itu benar-benar mengena dan membuat saya paham kenapa ada seorang ulama yang mengatakan, “seandainya para raja dan saudagar yang kaya raya tau akan nikmatnya qiyamul lail, niscaya mereka akan merebut paksa nikmat itu dari tangan para muslimin dengan seluruh jabatan dan kekayaannya yang ia miliki. Bahkan mungkin jiwanya”. Masyaa Allah..
Lalu, apakah hanya orang-orang tertentu yang Allah beri nikmat menghafal Al Quran?
Jawabannya adalah “tentu".
Siapa mereka? Orang-orang yang mau berusaha.
Kenapa begitu? Karena tidak semua orang mau menjemput nikmat itu.
Sebagian besar orang mungkin telah mengikuti kajian dan sharing pengalaman dengan hafidz/ah namun akhirnya tetap berkubang pada aneka aktivitas tak berguna dan jauh dari Al Quran. Ya, hari ini saya mengikuti kajian dari seorang syaikh dari Palestina bernama Syaikh Ayman Amin Abd Al Kader bahwa salah satu adab penghafal Al Quran adalah meluangkan waktu bukan menunggu waktu luang. Kita tidak akan pernah dapat menghafal jika hanya mengandalkan waktu luang, KITA HARUS MELUANGKAN WAKTU UNTUK MENGHAFALNYA. 
Bahkan ketika kita sudah menghafal satu-dua juz kadang kita merasa cukup sehingga kita lupa menyediakan waktu untuk muroja’ah. Syaikh Ayman mengatakan bahwa seharusnya ketika kita menghafal Al Quran, maka kita harus siap untuk menyediakan waktu untuk muroja’ah yang artinya, waktu yang kita sediakan jauh lebih banyak dibanding ketika kita baru saja menghafal. 
Dan tentu saja waktu yang disediakan untuk muroja’ah seharusnya jauh lebih banyak daripada waktu menambah hafalan karena sifat hafalan itu mudah hilang. Maka apakabar cita-cita tahfidz quran 30 juz jika kita menyediakan waktu untuk memulai hafalan saja sulit? Astaghfirullah.. Semoga kita termasuk orang-orang yang mau meluangkan waktu untuk menghafal serta memuroja’ah hafalan Al-Qur’an.
Memang tidak dapat dipungkiri, menghafal Al Quran membutuhkan proses yang panjang. Mulai dari memperbaiki bacaan melalui tahsin hingga muroja’ah tadi yang sudah saya sebutkan di atas. Mungkin jika dibayangkan, rasanya saja malas. Bagaimana tidak? Tahsin adalah rangkaian belajar membaca Al Quran yang panjang dan penuh “tetek bengek” mulai dari mengenal mahrojul huruf hingga tajwid. Mahrojul huruf pun sangat sukar bagi sebagian lidah orang Indonesia terutama Jawa. 
Belum lagi mengenal berbagai macam hukum bacaan “sandangan” huruf yang disebut dengan harakat. Tapi sebenarnya semua itu memang kembali kepada kemauan. Asal mau, semua itu simple, cukup dilakoni dan dinikmati saja. Waktu untuk bisa lulus tahsin pun sebenarnya memang sangat panjang. Saya sendiri belum lulus sampai syahadah hingga detik ini. Namun sembari memperbaiki bacaan, kita juga masih tetap bisa menghafal surat-surat pendek yang ada di juz 29 dan 30 dengan berbagai metode awam seperti talaqqi.
Apa itu metode talaqqi? Metode talaqqi adalah metode hafalan Al Quran dengan menirukan orang yang telah baik dan benar hafalannya. Tidak harus dengan guru secara langsung. Kita bisa saja menggunakan aplikasi mp3. Caranya? Dengarkan qori’ dan tirukan bagaimana dia membaca ayat tersebut dan hafalkan sesuai dengan cara bacanya tadi.
Syaikh Ayman juga mengatakan hal yang serupa bahwa justru semakin kita sering mendengar qori’ membaca Al Quran, maka kita akan semakin mudah menghafal. Itulah kenapa sebagian besar ustadzah tahfidz saya baik di asrama dulu hingga di liqoat pekanan saya sekarang selalu menyampaikan bahwa salah satu cara menambah dan menjaga hafalan Al-Qur’an adalah dengan tilawah yang banyak. 
Minimal ya 3 – 5 juz perhari. Susah ya? Masyaa Allah.. Saya juga masih kesulitan. Bahkan untuk bisa satu juz saja saya sering tambal sulam. Tapi tak mengapa, mari tetap optimistis karena sungguh Allah telah memudahkan Al Quran untuk dipelajari seperti dalam QS Al Qamar: 17, “dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”
Lalu bagaimana jika masih merasa sulit dan tidak yakin dengan metode talaqqi melalui mp3?
Tenang, sekarang sudah ada banyak sekali penghafal Al Quran di pelosok negeri ini. Mau di Jawa, mau di Kalimantan, bahkan di Papua pun ada. Selain itu jikalau pun memang tidak dapat mengakses guru untuk membantu hafalan kita, ada sebuah program dari PPPA Daarul Quran yaitu quran call center, di mana kita bisa setoran dengan salah satu santri PPPA Daqu (yang juga berperan sebagai customer service) dan bacaan kita akan diperbaiki melalui telepon. Masyaa Allah ya.. itu salah satu fasilitas yang amat sangat memudahkan kita meski tidak ada orang yang bisa menyimak bacaan Al Quran kita saat itu. semoga seluruh jajaran QCC mendapatkan keberkahan dan keistiqomahan dalam menjalankan program tersebut. Aamiin..
Sebenarnya masih ada banyak metode lain yang bisa kita lakukan untuk menghafal Al Quran. Namun itu semua kembali kepada kita pribadi, mau atau tidak. Memang tidak semua orang diberikan kemudahan menghafal Al Quran dalam waktu yang singkat. Saya pribadi juga masih terus mengulang-ulang hafalan saya meski kadang ada rasa bosan. 
Tapi ingat bahwa nikmat yang kita dapat di dunia saja begitu luar biasa apalagi di akhirat nanti. Lagipula mengikhtiarkan diri untuk senantiasa memahami dan berinteraksi dengan Al Quran akan membantu kita untuk menjauhkan diri dari segala macam aktivitas yang sia-sia. Dan tentunya jangan lupa, mohonlah selalu kepada Allah untuk diberikan kemudahan dan keistiqomahan dalam menghafal Al Quran karena sesungguhnya Allah lah yang memiliki Al Quran dan menjadikannya mudah untuk kita hafalkan dan kita pelajari.
Allahummarkhamna bil qur’an...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROPOSAL BANTUAN UNTUK PEMBANGUNAN LANJUTAN ASRAMA SANTRI

2 Orang Santri Ma'had Tahfizul Qur'an Syech Ahmad Chatib Lolos Babak Final Pada Kegiatan MTQ Tingkar SUMBAR